sebuah pencarian...

bank roma's posts with tag: essay

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag essay
Blog EntryFrom Sumenep To Singset OrientedDec 26, '07 9:11 AM
for everyone
Berikut ini ada artikel asyik dari cak Nun, entah kesannya menyanjung ato apa, tapi insya allah mendewasakan....

From Sumenep To Singset Oriented
by ; Emha Ainun Najib

Sudah diakui umum bahwa Madura lebih modern, lebih efesien, dan lebih memahami ilmu hemat, dibanding manusia modern sebelah mana pun di muka bumi ini. Setidak-tidaknya dalam soal-soal yang menyangkut tubuh kaum wanita. Bukankah legenda tentang seks wanita Madura hanya bisa ditandingi oleh sangat sedikit etnik lain?

Kaum perempuan Madura, yang di-besarkan oleh kekeringan dan kekerasan lingkungan, bukan saja pakar jejamuan yang singset-oriented. Bukan saja sejak dari sono-nya memang dianugrahi katuranggan alias natural behavior yang istimewa di bidang seks. Bukan saja teknokrasi dan teknologi seksnya canggih, filosofi dan moralitas seksnya luhur, sehingga lahirlah etos carok.

Lebih dari itu kebudayaan Madura telah matang untuk menyadari betapa wanita harus, dihemat. Unsur-unsur menyadari betapa wanita harus dihemat. Unsur-unsur wanita ada yang boleh go public, tapi ada yang hanya boleh go husband. Jangankan ada yang menyentuh, memandang saja pun sebaiknya--sikat! Clurit! Carok! Apa? Anti kekerasan? Non-Violence strunggle? Apa maksud Ente?

Mengucurnya darah dari badan tidaklah ada artinya dibanding suatu bentuk kekejaman dan kekerasan nilai yang merontokkan harkat kemanusiaan. Apakah Ente lebih mengidentifikasikan diri ke 'badan manusia' dibanding 'kemanusiaan'? Bukankah kematian tubuh seorang pahlawan bisa kita relakan asalkan demi kehidupan dan kejayaan nilai kebenaran yang diyakini?

Manusia disebut manusia karena kehormatannya. Kalau ada lelaki nguthak-uthek onderdil istri, yang terhina bukan hanya kehormatan istri atau wanita itu sendiri. Dan kalau kehormatan sudah direnggut, nilainya sama dengan kematian. So, carok itu sekedar mekanisme yang melaksanakan pemenuhan nilai kematian itu.

Makanya di Pulau Madura jarang ada perkosaan: secara tradisional berlangsung kontrol moral sosial yang sangat ketat, dan itu pasti lebih baik dibanding komune seks bebas yang dibangga-banggakan oleh peradaban modern. Beda dengan di wilayah-wilayah Jawa, misalnya. Banyak terjadi pemerkosaan tidak terutama di kota-kota besar modern metropolitan, tapi justru di kampung, wilayah kabupaten, kecamatan atau desa. Lho, apakah masyarakat metropolitan lebih bermoral sehingga angka perkosaan rendah?

Tidak. Di kota-kota besar perkosaan lelaki atas wanita tak perlu banyak terjadi, karena hubungan seks bisa dilakukan tanpa paksaan. Segala infrastruktur sosial ekonomi dan sosial budaya untuk demokrasi seks telah bersedia. 'Rekanan bisnis' tak terlalu sukar dicari, uang untuk nyewa motel ada, jenis-jenis kamar sewaan juga semakin canggih saja.

Bahkan para pemilik modernitas telah pula menyiapkan dalih-dalih nilai yang luar biasa luhurnya untuk membela kebebasan dan hak asasi manusia, termasuk hak asasi manusia untuk menjadi hewan. Untuk apa memperkosa wong suami-istri buta huruf tentang di mana istrinya siang ini berada, juga istri-istri capek menyelediki apa yang dilakukan suaminya.

Beda dengan para lelaki di daerah agraris atau sub-urban, terutama yang tidak suplus ekonominya. Mereka di-guyur iming-iming konsumtifisme seks yang sama dahsatnya dengan yang menimpa lapisan masyarakat di atasnya yang punya duit dan nilai "demokrasi bagian yang enak-enak". Tapi fasilitas yang mereka punya tidak sama. Jadi ya terpaksa yang mereka punya tidak sama. Jadi ya terpaksa menyelenggarakan perkosaan, kalau cenggur-nya ('kenceng nganggur'-nya) kelamaan.

Kota-kota besar, masyarakat modern, peradaban metropolitan, telah memperlopori kesamarataan, globalisasi dan distribusi. Barang-barang kaum wanita yang sebenarnya bersifat privat, malah dipamerkan di etalase toko-toko, bahkan menjadi andalan komoditi utama sejumlah koran kuning.

Bagaimana sih sebenarnya konsep privacy manusia dan kebudayaan modern? Padahal pemuda Sumenep itu bertahan lima tahun penuh untuk tidak seserpih pun menyingkap kain atau rok si gadis idaman yang toh kelak akan menjadi bagian dari privacy-nya.

Lima tahun! Lima kali 365 hari! Beberapa jam itu? Berapa menit? Berapa detik? Hitunglah sendiri. Padahal jika kita memasuki atmosfer nafsu seks di depan bayangan aurat perempuan, menunggu lima menit saja pun serasa berhari-hari sengsara dalam keputusasaan.

Tapi pemuda kita ini mempertahankan dengan penuh disiplin. Ya demi moral, demi akhlak, demi tidak dosa, demi sirik, tetepi juga sangat penting adalah demi supaya ia tidak mengalami rasa jenuh pasar terhadap si perawan.

Ia memahami betul kapitalisme kenikmatan seks. Ia mengerti ilmu berhemat atas uarat wanita. Kalau dibuka-buka sejak sekarang, kalau diusap-usap tiap malam minggu, kalau di dusel-dusel kapan saja sempat: Kadar kenikmatan akan menurun drastis. Rasa penasaran, getaran-getaran esoterik, akan melorot tak ketulungan. Wanita menjadi murah harganya. Menjadi koden dan kacangan.

Padahal kalau dihemat, setiap pori-pori tubuh sang kekasih adalah sorga. Setiap sentimeter kulitnya adalah telaga yang menakjubkan. Pemuda Sumenep kita ini bertahan sekian lama agar percintaan dan kemesraannya tidak mengalami prematur ejekulasi. Bukanlah anak-anak muda yang pacaran dengan cara menghabiskan jatah kenikmatan suami-istri sesungguhnya sedang merancang suatu ejukalasi dini yang karbitan secara psikologis maupun, bahkan, biologis?

Saksikanlah, betapa dahsyatnya bulan madu malam pertama kisah From Sumenep with Love ini.

Lima tahun si pemuda menahan diri. Prestasi tertingginya hanyalah memegang tangan si perawan, itupun dengan sangat gemetar dan ketakutan --betapa nikmatnya ketakutan!-- Tanyakan kepada semua pakar, bahwa dalam hal berpacaran, sepanjang menyangkut konteks biologis: ketakutan jauh lebih afdol dibanding keberanian.

Memang jangan latas membayangkan Madura adalah semacam "Pulau Santri" di mana segala-galanya serba steril dari maksiat. Tapi yang penting pemuda Sumenep kita ini jangan sekali-sekali dibayangkan pernah nonton bareng, kencan malam minggu, apalagi SH alias saba hotel.

Fantasi dan imajinasi saja. Lima tahun penuh fantasi dan imajinasi saja. Sehingga tatkala malam bulan madu tiba, jebollah dam itu! Tetapi si Sumenep kita cukup dingin: ia nikmati istrinya sedikit demi sedikit dan amat perlahan-lahan. Diinstruksikannya sang istri untuk membebaskan diri dari pakaiannya. Sekali lagi: sedikit demi sedikit dan amat perlahan-lahan. Slow motion.

Kemudian sesudah 'demokrasi dan keterbukaan' sempurna, ia sutradarai sang istri untuk melakukan gerak keindahan. Seindah-indahnya. Ibarat lakon sandiwara, ini eksposisi. Baru kemudian memulai adegan konflik. Ia pandangi tubuh istrinya dengan penuh kekhusukan. Sedikit demi sedikit dan amat perlahan-lahan. Dari ujung rambutnya, keningnya, matanya, hidungnya, bibirnya, dagunya, lehernya, kemudian melompat-lompat sampai lengkap.

Sampai akhirnya ia berhenti di 'pusat kebudayaan' yang lucu bentuknya dan misterius perangainya. Si Sumenep kita mungkin membayangkan hendak berburu di kedalaman hutan belantara yang eksositemnya masih amat perawan dan terpelihara itu. Wajahnya menegang, sorot matanya menjadi aneh, dan tiba-tiba saja satu tangannya menepuk 'pusat kebudayaan' itu sambil bergumam:

"Alaa! kayak gini saja nunggu lima tahun!"[]



© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help