Asap rokok masih mengepul di mulutku. Kurasa badanku melayang-layang terus melayang hingga mencapai bulan. Dengan sisa-sisa tenaga kurebahkan tubuhku pada bukit bulan. Kemudian dengan pandanganku yang remang dan samar, kilihat seorang gadis menghampiriku. Dia sangat cantik dan kukira hanya orang bodoh dan gila yang tidak tertarik padanya. Bidadarikah ia? Oh....., dia semakin dekat denganku. Keanggunannya mengalahkan bidadariku yang selama ini kurindukan. Dia hentikan langkahnya setelah satu jengkal jaraknya dariku. Suara merdunya keluar pula.
”Apa yang kau cari anak muda? Aku, bulan, awan, atau tak satupun yang kucari”.
Mulutku terasa berat untuk bicara, namun kupaksakan juga. Namun sebelum keluar jawabanku, gadis itu tersenyum lebar. Aku tersentak melihat taringnya yang tajam. Oh, mukanya berkerut, matanya memerah darah, jarinya mengeluarakan cakar besi, rambutnya, kakinya, badannya, dan keseluruhannya berubah menyeramkan. Senyumnya berubah menjadi tawa seram. Aku takut, aku mencoba lari walaupun kutahu itu tidak mungkin. Akhirnya badanku melayang-layang di bulan. Entah apa yang menggerakkannya. Gadis iblis itu mengejarku, sambil sesekali mengulur cakarnya ke wajahku........
Aku terus melayang. Tetapi gadis iblis itu lebih cepat lagi. Ketakutanku mengalami puncak ketika kutahu bulan tak lagi mampu menggerak-gerakkan aku. Kemana lagi kuharus lari.
Gadis iblis tertawa lebar penuh kemenangan setelah tepat berada dihadapanku. Mataku terpejam setelah ayunan cakarnya mengarah dadaku. Dan akhirnya, cakarnya melukai kekujur tubuhku. Aku bermandikan darah sambil berteriak-teriak tajam penuh kesakitan. Tiba-tiba segumpal api mengahantam tubuh iblis itu hingga terpental. Kuberlari lagi dengan tenagaku sendiri. Sementara itu darah menyirami bagian-bagian bulan laksana hujan. Hujan darah itu berasal dariku. Aku menangis dengan air mata darah. Dan itu lagi walaupun tubuhnya terbakar. Menarik kakiku dan melumatkan tubuhku pada apia, terus dan terus. Betapa tersiksanya aku. Darahku gosong namun lebih deras lagi menyiram bulan. Aku tak kuat lagi berteriak, mungkin pita suaraku telah pula menjadi darah. Yang kulakukan hanya menangis tanpa suara. Dengan tenaga ghaib kulontarkan tubuhku, jatuh terus, tersungkur dan tersingkir dari bulan hingga akhirnya kutemui bumi. Aku lihat darahku hitam di bulan dan kulihat akhinya iblis itu pun gosong.
Jika kamu lihat kehitaman di bulan, itulah darahku yang gosong. Hingga aku kemudian.......